Upah BHL di Bahbutong Minim, Juru Timbang Dan Sortir Dicurigai Permainkan Harga

 





Simalungun,Hariandjakarta
Minimnya penghasilan para buru Buruh Lepas Harian (BHL) di perkebunan teh Bah Birong Sidamanik  diduga akibat adanya permainan oleh oknum tertentu dalam  menentukan nilai hasil panen, Jumat (18/2/22)

Dugaan itu diucapkan oleh ketua komisi IV DPRD kabupaten simalungun Binton sitindaon kepada media Hariandjakarta melalui pembicaraan telpon selular.

Binton mengatakan, komisi IV DPRD pada jumat lalu (11/2) telah melakukan kunjungan ke kebun teh Bah Butong kecamatan Sidamanik, pada kunjungan tersebut DPRD mempertanyakan cara pembayaran upah kepada buru BHL sehingga mereka hanya mendapatkan berkitar Rp30.000,- saja dalam setiap melakukan pemanenan.

DPRD mendapatkan pengakuan dari pihak perkebunan bahwa pembayaran upah dilakukan melalui pihak ketika, namun itu hanya dalam penyampaian saja, Sementara untuk hal penimbangan dan menentukan kualitas hasil panen hingga penentuan besaran upah berdasarkan kualitas itu ditentukan oleh pihak perkebunan sendiri tanpa menyertakan pihak ketiga ( pendor).

Untuk macam macam jenis pembayaran sendiri dilakukan berdasarkan kualitas dimulai dari harga Rp175/kg hingga Rp500/kg.

Dengan selalu minimnya upah yang diterima oleh buru, Binton menduga seolah olah ada harga dipermainkan oleh juru timbang dan juru sortir yang berakitab buru selalu dibayar dengan kategori upah terendah. Namu ketika kita tanyakan pihak kebun mengatakan tidak ada unsur demikian, terang Binton

"Disini kita menganggap adalah permasalahan yang sesungguhnya, dan kita meminta dalam penentuan hasil dan timbangan pihak kebun harus menyertakan indikator yang bisa dipercayakan.
Kalau pihak perkebunan tidak membenahi DPRD akan berangkat ke Menteri BUMN" tegas Binton Sitindaon


Penulis, Robinsar silaban

Komentar