PT. Wika Tanggapi Longsornya Tanggul Geobag Di Kelurahan Ladang, Menurut Manager Project PT. Wika Estimasi Anggaran 28 Miliyar.





 

SINTANG (Kalbar)-HARIANDJAKARTA 

 Hujan deras mengguyur kota Sintang pada Selasa malam (01/02/2022), hingga mengakibatkan tanggul geobag di sepanjang jalan di Kelurahan Ladang di bawah jembatan Melawi pinggiran sungai melawi  dan sungai kapuas alami kerusakan hingga akibat geobag sebagai penahan air tersebut longsor hingga berhamburan ke sungai.

Peristiwa tersebut terjadi di sepanjang pinggiran sungai Melawi dan yang terparah tepatnya terjadi di Jalan Teuku Umar depan Masjid Al Muttaqin, Kelurahan Ladang, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat.

Informasi yang diterima oleh media ini pada Rabu pagi (02/02/2022), tampak terlihat kerusakan tanggul geobag tersebut hingga longsor hingga ke sungai. Ini diakibatkan tanah dipinggiran sungai tidak mampu menahan beban dari geobag tersebut.

Dalam kesempatan ini Daniel Sitorus selaku Manager Project dari PT. Wijaya Karya, Persero Tbk (PT. Wika) memberikan informasi dan penjelasan terkait kerusakan tanggul tersebut bahwa ini semua menjadi tanggung jawab pelaksana untuk segera langsung memperbaiki kerusakan yang terjadi.

Dikarenakan ini merupakan tanggap bencana yang merupakan prediksi terjadinya lanina di bulan Januari hingga Februari 2022 yang kesemuanya itu menjadi tanggung jawab dan solusi dari pihak Perusahaan dalam mengatasi bencana yang terjadi di Kabupaten Sintang yang pada bulan November hingga Desember 2021 lalu alami musibah banjir.

"Ya ini merupakan hal yang wajar. Karena akan ada pergerakan tanah asli dan ini dari 5,3 penanganan itu sekitar 50 meter pak sehingga yang ada titik kelemahan itu sekitar 1 persen. Dan ini masih dalam masa konstruksi, jadi wajar-wajar aja dan kita juga secepatnya lakukan perbaikan," ungkap Daniel Sitorus.

Daniel Sitorus menambahkan penanganan tanggap darurat yang dilakukan oleh pihak PT. Wijaya Karya bertujuan untuk antisipasi adanya lanina yang terjadi di bulan Februari.

"Jadi tupoksi adanya tanggap darurat itu tidak diperbolehkan untuk pekerjaan secara permanen. Jadi memang wajar pekerjaan tanggap darurat ini tidak ada item perbaikan tanah dasar. Berbeda dengan pekerjaan permanen, logikanya ya seperti itu," tambah Daniel Sitorus.

Daniel Sitorus menambahkan juga bahwa kegiatan pekerjaan yang dilakukan secara permanen butuh waktu jangka panjang. Dan ini sebagai evaluasi teknis terkait dengan kegiatan tersebut.

"Dan saya rasa ini tidak ada masalah dan ini tetap kita perbaiki langsung. Dan inikan pekerjaan tanggap darurat jadi untuk pembayaran terkait anggarannya itu apabila pekerjaan sudah selesai dilaksanakan," tambah Daniel Sitorus.

Terkait anggaran estimasi Daniel Sitorus menjelaskan sekitar 28 miliyar dengan jarak 5,3 kilometer dengan waktu selama 3 bulan dan pekerjaan sudah hampir selesai untuk saat ini.

"Jadi kita kerja siang malam untuk target diperkirakan sebulan sebenarnya. Dan untuk pekerjaan normal itu selama 3 bulan. Dan kita upayakan untuk pekerjaan tanggap darurat harus secepatnya dan untuk biayanya sendiri setelah pekerjaan selesai di akhir nanti," pungkas Daniel.

Demikian siaran berita ini yg dikonfirmasikan ke awak media harian djakarta(boy hariansyah)

Komentar